## malam ini hujan turun lagi,
bersama kenangan yang mungkin luka di hati,
luka yang harusnya dapat terobati,
yang ku harap tiada pernah terjadi,
ku ingat saat ayah pergi dan kami mulai kelapran,
hal yang biasa buat aku hidup di jalanan,
di saat ku belum mengerti arti sebuah perceraian,
yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki,
wajar bila saat ini ku iri pada kalian yang hidup bahagia berkat susana indah dalam rumah,
hal yang selalu aku bandingkan dengan hidup ku yang kelam,
tiada harga diri agar hidup ku terus bertahan,
mungkin sejenak dapat aku lupakan,
dengan minuman keras yang saat ini ku genggam,
atau menggoreskan kaca di lengan ku,
apapun kan ku lakukan ku ingin lupakan,
namun bila ku mulai sadar dari sisa mabuk semalam,
perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan,
di saat ku telah mengerti betapa indah di cintai,
hal yang tak pernah ku dapatkan sejak aku hidup di jalanan
Lagu di atas pas banget sama gw sekarang, rumah gw uda kaya penjara buat gw sendiri, gw slalu membandingkan dengan orang lain yang bisa betah banget di rumah, ada juga yang bisa bebas maen kemana pun dia pengen, tapi gw?
Gw kaya terkurung di jeruji besi, gw ga bisa kmana mana, ga bisa maen padahal di depan rumah gw sendiri, kesiksa gw disini, bukan secara rohani gw tersiksa, secara jasmani juga.
Kenapa? kenapa kalo gw salah sedikit aja gw langsung di pukul, di jewer, di sabet pake iket pinggang, di cubit, di getok pake gayung sampe gw berdarah, hellow gw manusia, dan gw cewe, gw ga kuat ya ALLAH kalo kaya gini terus, gw di aniaya kaya gini, sebenernya gw tuh anak siapa? anak dia? yakin? kenapa gw di siksa kaya gini sedangkan ade gw ngga? ini yang ngebuat ga adil, ade gw tuh bandel bgt bgt bgt, tapi kenapa cuman gw doang yg dianiaya.
Ada 2 kemungkinan :
1. Gw anak tiri
2. Dia gila
Gw cuman pengen semua ini berakhir dan gw hidup tenang tanpa siksaan, tolong ya ALLAH aku udah ga kuat :(
## Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi...
Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar